Rabu, 23 Januari 2013

Cerita Sang Sahabat


Ini kisah sederhana di antara kami yang sudah mengenal terlalu lama…
   Kau berjalan pelan di jalan setapak samping rumahmu. Pancaran sinar matahari senja seakan memayungi tubuhmu, sehingga dari jauh yang terlihat hanya bayang-bayang senja. Langkahmu semakin pelan, seiring dengan kemuraman di wajahmu. Akhirnya, kau berhenti di depan sebuah rumah mungil yang catnya mulai terkelupas. Kau menghela napas pendek dan mengubah mimik wajahmu menjadi ceria, seperti biasa. “Hasna!” panggilmu pada putri pemilik rumah.
Seorang gadis yang seumuran denganmu keluar dari rumahnya. Ia tersenyum lebar menatapmu. Dia, sahabatmu. “Hai!” Ia berjalan menghampirimu. “Tumben kamu main, tidak berangkat siang?”
Kau mengangguk cepat. “Aku berangkat pagi. Malas di rumah, ingin main jadinya aku ke sini.” Kau memamerkan senyum lebar.
Sahabatmu hanya duduk di sebelahmu dan mendengar ceritamu dengan wajah berbinar. Namun, sang sahabat tidak melihat kilatan luka yang terpancar dengan jelas di raut mukamu. Mendung itu kau tutupi dengan sempurna.
XXX
Ini kisah tentang aku dan sahabat kecilku…
Sahabatmu baru pulang ke rumah menjelang maghrib. Ia menyapa ibunya dengan wajah gembira. Namun, ibunya hanya terdiam kaku, tak membalas sapaannya, malah menatap lekat-lekat sahabatmu. “Temanmu minggat.”
Sahabatmu terbelalak mendengar keterangan tentang dirimu. “Minggat? Maksud Ibu, Novi?”
Ibunya hanya mengangguk. “Dia meninggalkan surat. Katanya, dia mau bekerja saja, tidak mau sekolah. Dia minta orang tuanya agar tidak mencarinya. Dua hari yang lalu dia pergi membawa koper bersama seorang wanita berkacamata.”
Sahabatmu menutup mulutnya saking terkejut karena cerita ibunya. Seketika terbayang setiap potong kenangan yang tercipta. Menjemput sang fajar, menari di atas hujan, bermain boneka Barbie terbaru, atau sekedar duduk mengobrol, merupakan aktivitas yang sering kalian lakukan bersama. Sahabatmu ingat, dua hari yang lalu, setelah hampir satu bulan tidak berjumpa, ia berpapasan denganmu. Ia akan berangkat sekolah dan kau sedang berada di teras rumah. Kau hanya menyapanya singkat, tetap dengan senyum ceria di wajahmu. Ternyata itu adalah pertemuan kalian yang terakhir.
Sahabatmu menangis keras dalam pelukan ibunya sembari memanggil namamu. Ia menyesal karena pernah berkhayal jika temannya ada yang memiliki kisah memilukan seperti dalam drama pasti akan menyenangkan. Terbayang dalam pikirannya, ia tak akan bertemu denganmu lagi. Sahabatmu menangis terlalu keras mengingat luka yang menganga karena berbagai masalah yang coba kau tutupi, yang tidak ia pedulikan. Sahabatmu itu…aku.



“Untuk sahabat kecilku, Novi Rahmawanti yang meninggalkan rumah sejak Senin, 21 Januari 2013. Pulanglah sahabat. Aku, Uci, pacarmu, Bapak dan Mamamu, semuanya merindukan senyum ceriamu. Aku ingin kita bertiga—aku, kamu, Uci—bisa duduk mengobrol di tepi rel kereta api sembari menanti sang mentari terbit.”
230113

Kamis, 10 Januari 2013


"Aku terus berlari seperti dikejar sesuatu. Kuakui itu sangat melelahkan dan kupikir aku bisa mati karena hal itu. Tapi, aku tidak bisa berhenti. Bencana terbesar akan datang jika aku memutuskan untuk berhenti. Aku akan hancur."