Ini kisah sederhana di antara kami yang sudah mengenal
terlalu lama…
Kau berjalan pelan di jalan setapak samping
rumahmu. Pancaran sinar matahari senja seakan memayungi tubuhmu, sehingga dari
jauh yang terlihat hanya bayang-bayang senja. Langkahmu semakin pelan, seiring
dengan kemuraman di wajahmu. Akhirnya, kau berhenti di depan sebuah rumah
mungil yang catnya mulai terkelupas. Kau menghela napas pendek dan mengubah
mimik wajahmu menjadi ceria, seperti biasa. “Hasna!” panggilmu pada putri pemilik
rumah.
Seorang gadis yang
seumuran denganmu keluar dari rumahnya. Ia tersenyum lebar menatapmu. Dia,
sahabatmu. “Hai!” Ia berjalan menghampirimu. “Tumben kamu main, tidak berangkat
siang?”
Kau mengangguk cepat.
“Aku berangkat pagi. Malas di rumah, ingin main jadinya aku ke sini.” Kau memamerkan
senyum lebar.
Sahabatmu hanya duduk
di sebelahmu dan mendengar ceritamu dengan wajah berbinar. Namun, sang sahabat
tidak melihat kilatan luka yang terpancar dengan jelas di raut mukamu. Mendung itu
kau tutupi dengan sempurna.
XXX
Ini
kisah tentang aku dan sahabat kecilku…
Sahabatmu baru pulang
ke rumah menjelang maghrib. Ia menyapa ibunya dengan wajah gembira. Namun,
ibunya hanya terdiam kaku, tak membalas sapaannya, malah menatap lekat-lekat
sahabatmu. “Temanmu minggat.”
Sahabatmu terbelalak
mendengar keterangan tentang dirimu. “Minggat? Maksud Ibu, Novi?”
Ibunya hanya
mengangguk. “Dia meninggalkan surat. Katanya, dia mau bekerja saja, tidak mau
sekolah. Dia minta orang tuanya agar tidak mencarinya. Dua hari yang lalu dia
pergi membawa koper bersama seorang wanita berkacamata.”
Sahabatmu menutup
mulutnya saking terkejut karena cerita ibunya. Seketika terbayang setiap potong
kenangan yang tercipta. Menjemput sang fajar, menari di atas hujan, bermain
boneka Barbie terbaru, atau sekedar
duduk mengobrol, merupakan aktivitas yang sering kalian lakukan bersama. Sahabatmu
ingat, dua hari yang lalu, setelah hampir satu bulan tidak berjumpa, ia
berpapasan denganmu. Ia akan berangkat sekolah dan kau sedang berada di teras
rumah. Kau hanya menyapanya singkat, tetap dengan senyum ceria di wajahmu. Ternyata
itu adalah pertemuan kalian yang terakhir.
Sahabatmu menangis
keras dalam pelukan ibunya sembari memanggil namamu. Ia menyesal karena pernah
berkhayal jika temannya ada yang memiliki kisah memilukan seperti dalam drama
pasti akan menyenangkan. Terbayang dalam pikirannya, ia tak akan bertemu
denganmu lagi. Sahabatmu menangis terlalu keras mengingat luka yang menganga
karena berbagai masalah yang coba kau tutupi, yang tidak ia pedulikan. Sahabatmu
itu…aku.
“Untuk sahabat
kecilku, Novi Rahmawanti yang meninggalkan rumah sejak Senin, 21 Januari 2013. Pulanglah
sahabat. Aku, Uci, pacarmu, Bapak dan Mamamu, semuanya merindukan senyum
ceriamu. Aku ingin kita bertiga—aku, kamu, Uci—bisa duduk mengobrol di tepi rel
kereta api sembari menanti sang mentari terbit.”
230113

