Resensi Novel Morning
Light
Judul : Morning Light
Pengarang : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2010
Tebal buku : viii+180 halaman
Rate : 8/10
Aku seperti bunga
matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia :
matahariku.
Aku mengagumi kedalaman
pikirannya, caranya memandang hidup—malah, aku mati-matian ingin seperti
dirinya.
Aku begitu terpesona
hingga tanpa sadar hanya mengejar baying-bayang. Aku menghabiskan waktu dan
tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan
suara lirih di dasar hatiku.
Aku buta dan tuli. Dan di
suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya. Apakah dengan
menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?
XXX
Sophie, Devon, Agnes, dan Julian
merupakan empat sahabat yang tak terpisahkan. Mereka sama-sama terlambat pada
upacara penerimaan murid baru. Dari situlah persahabataan mereka dimulai.
Keempat sahabat itu memiliki karakter
yang berbeda. Sophie merupakan gadis sinis putri dari seorang penulis terkenal.
Terobsesi dengan kehebatan mamanya, ia memutuskan untuk mengikuti jejak sang
mama menjadi seorang penulis.
Berbanding terbalik dengan Sophie,
Devon memiliki sifat yang ceria dan ramah. Ia sangat menyukai sepak bola dan
termasuk salah satu atlet sepakbola kebanggan sekolah. Devon dan Sophie sudah
bersahabat sejak lama karena rumah mereka memang terletak bersebelahan.
Gadis lain dalam persahabatan mereka
adalah Agnes yang suka memasak dan bercita-cita menjadi koki. Namun, pekerjaan
kedua orangtuanya sebagai dokter terasa membebaninya karena ia tidak bisa menjadi
seperti kedua orangtuanya.
Yang terakhir adalah laki-laki
berkacamata bernama Julian. Seperti penampilannya, ia memang anak yang cerdas
dan dingin. Maklum saja, ayahnya adalah seorang guru besar Matematika ternama
dan kakaknya juga mengikuti bidang yang ditekuni sang ayah dan kuliah di MIT.
Masalah mulai bermunculan ketika mereka
duduk di tingkatan terakhir bangku SMA. Rahasia yang mereka coba sembunyikan mulai
terkuak satu persatu. Mulai dari Devon yang merasa jenuh pada sepakbola karena
tertekan oleh ambisi ayahnya yang merupakan mantan pemain Timnas. Sakit mulai
menggerogoti hati Agnes akibat perlakuan mamanya yang berubah dingin setelah
kematian kakaknya yang akan mengikuti jejaknya menjadi dokter. Julian semakin
lelah karena ia terus-menerus mencoba mengejar Daniel, kakaknya, bahkan
berambisi untuk mengalahkan prestasi yang dibuat Daniel. Sophie sendiri harus
menelan kecewa karena naskahnya ditolak penerbit karena editornya menganggap
karyanya terlalu dipaksakan.
Satu kesamaan diantara mereka yaitu
mereka sama-sama mendongak menatap sang matahari dan menganggap diri mereka
tidak sehebat matahari.
Kisah yang ditulis oleh Windhy
Puspitadewi sarat dengan kehidupan remaja yang masih dalam tahap pencarian jati
diri. Setiap peristiwa dalam cerita merupakan fenomena yang ada di sekitar
kita, sehingga kita mudah untuk mengikuti alurnya. Meski narasi yang tidak
terlalu banyak sering membuat pembaca kesulitan untuk membayangkan
peristiwanya, buku ini tetap layak dikoleksi terutama untuk mengenang
persahabatan dan mimpi-mimpi kita.
Sahabat adalah orang yang tulus
membantu kita menggapai cita-cita.
Sahabat adalah orang yang akan bersorak
lebih kencang ketika kita berhasil menggapai mimpi meskipun mimpinya sendiri
kandas.
Sahabat adalah orang yang menggenggam erat
tangan kita saat kita ketakutan akan harapan yang terlalu tinggi.
Sahabat itu…kamu.
