161113
Ata's Journal...
This is about my dreams, my experience, and my life
Sabtu, 16 November 2013
Minggu, 18 Agustus 2013
Friend or Foe
Saya suka mendengarkan lagu t.A.T.u yang berjudul sama dengan postingan saya ini. Ternyata, saya harus mengalaminya juga. Saya tidak akan bercerita panjang lebar. Intinya kita harus benar-benar mengenal karakter teman kita terlebih dulu sebelum mempercayainya. Untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan yang akan merusak hubungan pertemanan, tidak ada salahnya waspada, bukan?

Bikin Kartu Pos Sendiri, yuk!
Akhir-akhir ini saya tergila-gila dengan benda bernama kartu pos. Awalnya, saya iseng minta kartu pos dari NHK World dan ternyata dikasih. Sejak saat itu saya mengikuti Postcrossing bersama dengan teman saya yang juga pecinta kartu pos. Tapi karena malas menunggu lama dan biaya untuk beli perangko lumayan mahal bagi kantong pelajar seperti saya, saya hanya mengirimnya kadang-kadang.
Beberapa hari yang lalu, teman saya yang mengenalkan saya pada Postcrossing menginformasikan bahwa ada Postcrossing ala Indonesia yaitu Card to Post. Menurut saya ini lebih asyik karena kita bisa bebas menentukan siap yang akan kita kirimi kartu pos.Selain itu kita juga membuat kartu pos sendiri yang pastinya akan lebih berkesan. Bikinnya nggak susah kok. Kita bisa memanfaatkan printer di rumah ataupun membuat dengan manual. medianya juga bebas, bisa dengan cat air, kolase, dan sebagainya.
So, jiwa iseng saya akhirnya menuntun saya untuk membuat beberapa meski belum dikirim karena kantor pos masih tutup. Ini dia...
Yang ini BBf, saya liat gambarnya di sampul buku saya.
Ini bukan kartu pos sih. Ini kartu ucapan ulang tahun untuk teman saya.
Kartu pos ini bercerita tentang tempat wisata di Kebumen, kota tinggal saya.
Tadaaa!!!
Rabu, 14 Agustus 2013
Janji Merapi
Judul : Notasi
Pengarang : Morra Quatro
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 294 halaman
Rate : 7,5/10
Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.
Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.
Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu....
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.
Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.
Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu....
XXX
Nalia adalah seorang mahasisiwi Kedokteran Gigi yang cukup aktif di kampus. Pada suatu acara BEM, ia harus terlibat dengan anak Teknik. Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Teknik saling bersitegang. Anak Teknik menganggap mahasiswa FKG adalah kumpulan anak-anak borju dan sebaliknya, anak FKG menganggap mahasiswa Teknik sebagai makhluk-makhluk angkuh dan terkesan barbar.
Namun anggapan itu seakan menghilang saat Nalia bertemu dengan Nino, laki-laki tampan dan lembut. Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama karena dipertemukan oleh urusan-urusan kampus. Meski dianggap tidak biasa karena sangat jarang mahasiswa kedua fakultas itu terlihat bersama, mereka tidak peduli.
Semakin lama Nino semakin jauh memasuki kehidupan Nalia dan membuat mereka berdua jatuh cinta. Namun, peristiwa revolusi menghambat kisah cinta mereka. Sudah saatnya bagi mereka para mahasiswa untuk menyuarakan pemikiran mereka setelah lama dikungkung dalam pemerintahan Orde Baru.
"Nanti, bila segalanya telah berakhir, kita daki Merapi, ke puncak yang paling tinggi," ujarnya kemudian.
Bila segalanya telah berakhir.
Bila segalanya telah berakhir.
Tidak ada yang tampaknya akan berakhir
Kisah ini berlatar pada akhir masa Orde Baru dan peristiwa proklamasi, ini sangat menarik. Cerita ditulis dari sudut pandang Nalia, membuat kisahnya menjadi lebih detil.
Saya baru pertama membaca tulisan Morra Quatro dan saya sangat menyukainya. Bahasa yang digunakan puitis dan manis, dengan tambahan beberapa quotes. Kisah Nalia dan Nino mengalir dengan indah dengan latar peristiwa revolusi yang jelas tergambar.
Sayangnya ada banyak kesalahan penulisan kata (typo) yang agak mengganggu ketika membacanya. Tapi saya suka dengan ceritanya apalagi dengan ending yang di luar perkiraan saya. Mungkin saya akan membaca buku-buku Morra Quatro yang lain :)
"Padi tumbuh tidak berisik"
-Tan Malaka-
Kamis, 20 Juni 2013
Kami dalam Sepotong Kisah
Satu tahun yang lalu, kami memasuki ruang kelas baru dengan teman-teman baru yang belum saling mengenal. Kami hanya mengobrol dengan teman yang sudah kami kenal dan mengabaikan yang lain. Kami belajar di ruang kelas usang di deret barat SMA N 1 Kebumen, XI IPA 2.

Kekakuan di antara kami belum hilang meski
telah beberapa bulan bersama. Hanya basa-basi atau senyum terpaksa yang sering
kami tampilkan. Semua masih sibuk dengan diri sendiri. Tanpa sadar, dalam kelas
sudah terbentuk kelompok-kelompok sendiri yang susah menyatu satu dengan yang
lain. Kondisi kelas yang membosankan.
Beberapa bulan kami lewati dengan kecanggungan,
hingga akhirnya kami harus meninggalkan kelas kami dan pindah ke kelas baru di
lantai 2 sebelah timur. Ruangan yang panas, sepi karena hanya ada 2 kelas
sebelas, dan masih bau cat. Sangat tidak nyaman.
Di ruang baru, perlahan kami mulai melepaskan
ego kami dan membaur satu dengan yang lain, tawa lepas dan senyum hangat mulai
dijumpai di sudut-sudut kelas. Kekompakkan mulai terbentuk dan kami mulai
mengerti arti sebuah keluarga. Saling berbagi, saling percaya, saling
mendukung, meskipun terkadang ada cibiran ataupun kasak-kusuk di belakang.
Tibalah saat kami harus bekerjasama dengan
seluruh teman sekelas, menyambut pergelaran seni. Keriuhan terdengar di
sana-sini, tangis mulai menghinggapi kami, jerit salah paham terasa mengiris
telinga. Namun, di balik itu semua kami harus kuat dan kompak demi suksesnya
acara terbesar kami tahun ini. Dan kami percaya kami bisa.
Ketika pergelaran sudah kita lewati dengan
sukses, akhirnya datang juga perpisahan ini. Hari di mana kami harus
meninggalkan kelas dan teman-teman tercinta untuk melanjutkan meraih mimpi
kami. Tapi, tidak berarti ikatan persaudaraan kita akan putus. Mungkin kami
memang melangkah di jalan yang berbeda, tapi kenangan manis tentang S.I.D tidak
akan bisa kami hapus dan akan terus mengiringi langkah kami.
“Temanku, semoga kita bisa bertemu
lagi di tangga kesuksesan.”
Agung—Ahong—April—Asa—Aul—Badrot—Arya—Alin—Dyah—Faiz—Fatah—Hafiz—Hasna O—Hasna P—Krisna—Adi—Lisa—Ibel—Nasrul—Novi—Arum—Nuke—Sari—Fika—Rayi—Kinep—Haroh—Trisna—Tyas—Vega—Dodo—Yani
Jumat, 19 April 2013
Is it Love?
Resensi Novel Dark
Love
Judul : Dark Love
Pengarang : Ken Terate
Penerbit : Gramedia Pustaka
Utama
Tahun terbit : 2012
Tebal buku : halaman
Rate : 9,5/10
Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas
12. Hampir lulus. Dan aku hamil...
Kirana
yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata.
Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu
melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari
orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan
orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah
tidak menawarkan solusi apa pun padanya.
Bagaimana dengan cowok yang
menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia
cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang
gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau
mengakuinya.
XXX
Hidup
Kirana, gadis cerdas dan cantik kebanggaan sekolah, hancur seketika saat ia mendapati dirinya
hamil. Bayangkan saja, ia masih 17 tahun, dan tinggal beberapa bulan lagi
menempuh Ujian Nasional. Di tengah kebingungannya, ia tetap tidak mau mangakui
siapa laki-laki yang menghamilinya. Ia selalu menyebutnya My
Prince.
Ia berusaha
menyembunyikan perihal kehamilannya dari siapapun, termasuk kelima sahabatnya :
Maria, Alvin, Banyu, Andre, dan Chacha. Dan menurut keterangan Kirana, sosok My
Prince ada di antara ketiga sahabat laki-lakinya : Alvin, Banyu, dan Andre.
Tapi, mereka berdua bisa menyembunyikan hubungan di antara mereka, karena ada
perjanjian bahwa di antara mereka berenam tidak boleh berpacaran dengan sesama
anggota.
Namun,
perjanjian itu mulai ditentang oleh Maria yang mengaku naksir Andre. Bahkan dia
getol menyomblangkan Kirana dengan Alvin serta Banyu dan Chacha.
Berbagai
cara berusaha dilakukan Kirana demi menyembunyikan kehamilannya. Mulai dari
mengikuti saran My Prince untuk aborsi, tapi ia justru ketakutan dan merasa
bersalah, hingga menyembunyikan perutnya yang mulai membesar. Tapi, seperti
apapun menutupi bangkai, baunya akan tercium juga. Begitupun dengan masalah
Kirana.
Ketika segalanya mulai terbongkar, ia tahu
bahwa ia sangat mengecewakan orang tuanya. Tapi, bantuan justru didapatkan dari
orang-orang yang tak pernah disangkanya, Kak Rani—kakaknya yang minggat—dan Bu
Welas, guru olahraganya. Bersama dengan teman-temannya, Kirana mencoba
memperjuangkan haknya untuk mengikuti UN.
Ketika saya membaca novel ini, rasanya tidak
ingin berhenti. Sepanjang cerita, kita dibuat kebingungan tentang siapa My
Prince sebenarnya. Terkadang kita dibuat untuk mempercayai bahwa pelakunya si
A, kemudian berbalik ke si B, bahkan ikut mencurigai si C ketika penulis
menceritakannya. Saya coba bertahan untuk tidak mengintip bagian endingnya, dan
tadaaaa….dugaan saya benar, hohoho.
Untuk kekurangannya, sepertinya disebabkan
karena halaman yang kurang tebal, haha. Karena sedang asyik-asyiknya membaca,
kok sudah habis?
Di antara beberapa novel Ken Terate yang saya
baca, teenlit ini yang menjadi favorit saya. Penulis mengangkat tema yang
lumayan berat mengenai sex before married, tapi dapat mengemasnya menjadi
bacaan yang cocok dibaca oleh remaja. Pelajaran yang dapat kita petik adalah
jangan sekali-kali melakukan hubungan seks sebelum hubungan disahkan oleh agama
dan Negara, karena dampaknya akan sangat besar bagi masa depan kita. Seperti
kata Kirana, enaknya lima menit, dampaknya lima belas tahun.
“Cinta itu indah, jadi jangan dirusak dengan
perbuatan-perbuatan kotor yang mengatasnamakan cinta. Jika pasangan meminta
hal-hal yang terlarang, itu sudah cukup membuktikan bahwa ia tidak benar-benar
cinta. Kalau ia benar-benar cinta, maka ia tidak akan mau merusak masa depan
orang yang disayanginya.”
Jumat, 12 April 2013
Langganan:
Postingan (Atom)















