Resensi Novel Dark
Love
Judul : Dark Love
Pengarang : Ken Terate
Penerbit : Gramedia Pustaka
Utama
Tahun terbit : 2012
Tebal buku : halaman
Rate : 9,5/10
Usiaku 17 tahun, hampir 18. Kelas
12. Hampir lulus. Dan aku hamil...
Kirana
yang cerdas, cantik, dan ceria melihat semua impiannya luruh di depan mata.
Hari-harinya mulai dipenuhi rahasia dan kecemasan. Ia nggak mungkin mampu
melahirkan dan merawat bayi. Ia juga nggak mungkin mampu menghadapi celaan dari
orang-orang di sekitarnya, teman-temannya, guru-gurunya, terutama kekecewaan
orangtuanya. Saat ini Kirana berada di ambang jurang keputusasaan. Hidup seolah
tidak menawarkan solusi apa pun padanya.
Bagaimana dengan cowok yang
menghamilinya? Oh, cowok itu harus tetap sekolah. Dia nggak boleh terlibat. Dia
cowok paling tampan dan paling cerdas di sekolah. Masa depannya begitu gilang
gemilang. Kirana tidak ingin merusaknya. Siapakah dia? Kirana takkan pernah mau
mengakuinya.
XXX
Hidup
Kirana, gadis cerdas dan cantik kebanggaan sekolah, hancur seketika saat ia mendapati dirinya
hamil. Bayangkan saja, ia masih 17 tahun, dan tinggal beberapa bulan lagi
menempuh Ujian Nasional. Di tengah kebingungannya, ia tetap tidak mau mangakui
siapa laki-laki yang menghamilinya. Ia selalu menyebutnya My
Prince.
Ia berusaha
menyembunyikan perihal kehamilannya dari siapapun, termasuk kelima sahabatnya :
Maria, Alvin, Banyu, Andre, dan Chacha. Dan menurut keterangan Kirana, sosok My
Prince ada di antara ketiga sahabat laki-lakinya : Alvin, Banyu, dan Andre.
Tapi, mereka berdua bisa menyembunyikan hubungan di antara mereka, karena ada
perjanjian bahwa di antara mereka berenam tidak boleh berpacaran dengan sesama
anggota.
Namun,
perjanjian itu mulai ditentang oleh Maria yang mengaku naksir Andre. Bahkan dia
getol menyomblangkan Kirana dengan Alvin serta Banyu dan Chacha.
Berbagai
cara berusaha dilakukan Kirana demi menyembunyikan kehamilannya. Mulai dari
mengikuti saran My Prince untuk aborsi, tapi ia justru ketakutan dan merasa
bersalah, hingga menyembunyikan perutnya yang mulai membesar. Tapi, seperti
apapun menutupi bangkai, baunya akan tercium juga. Begitupun dengan masalah
Kirana.
Ketika segalanya mulai terbongkar, ia tahu
bahwa ia sangat mengecewakan orang tuanya. Tapi, bantuan justru didapatkan dari
orang-orang yang tak pernah disangkanya, Kak Rani—kakaknya yang minggat—dan Bu
Welas, guru olahraganya. Bersama dengan teman-temannya, Kirana mencoba
memperjuangkan haknya untuk mengikuti UN.
Ketika saya membaca novel ini, rasanya tidak
ingin berhenti. Sepanjang cerita, kita dibuat kebingungan tentang siapa My
Prince sebenarnya. Terkadang kita dibuat untuk mempercayai bahwa pelakunya si
A, kemudian berbalik ke si B, bahkan ikut mencurigai si C ketika penulis
menceritakannya. Saya coba bertahan untuk tidak mengintip bagian endingnya, dan
tadaaaa….dugaan saya benar, hohoho.
Untuk kekurangannya, sepertinya disebabkan
karena halaman yang kurang tebal, haha. Karena sedang asyik-asyiknya membaca,
kok sudah habis?
Di antara beberapa novel Ken Terate yang saya
baca, teenlit ini yang menjadi favorit saya. Penulis mengangkat tema yang
lumayan berat mengenai sex before married, tapi dapat mengemasnya menjadi
bacaan yang cocok dibaca oleh remaja. Pelajaran yang dapat kita petik adalah
jangan sekali-kali melakukan hubungan seks sebelum hubungan disahkan oleh agama
dan Negara, karena dampaknya akan sangat besar bagi masa depan kita. Seperti
kata Kirana, enaknya lima menit, dampaknya lima belas tahun.
“Cinta itu indah, jadi jangan dirusak dengan
perbuatan-perbuatan kotor yang mengatasnamakan cinta. Jika pasangan meminta
hal-hal yang terlarang, itu sudah cukup membuktikan bahwa ia tidak benar-benar
cinta. Kalau ia benar-benar cinta, maka ia tidak akan mau merusak masa depan
orang yang disayanginya.”








