Suatu malam, saya diajak oleh teman saya mengunjungi pasar malam
yang kebetulan sedang mampir di desa saya. Saya pikir lumayanlah buat refreshing dari seabrek tugas sekolah.
Makanya saya langsung semangat 45 menyambut tawaran dari teman saya, meskipun
sebenarnya saya tidak terlalu menyukai ingar-bingar seperti itu.
Dan sesampainya di sana, ternyata bukan refreshing yang jadi tujuan
utama teman saya, tapi kopdar dengan cowok yang dicomblangin sama dia. Ternyata
juga tujuan saya diajak adalah agar mereka mudah mendapatkan izin dari orang
tua mereka dengan menggunakan nama saya. Aduh, rasanya rada sakit hati juga
karena mereka memosisikan saya sebagai tameng yang hanya digunakan saat
diperlukan.
But, bukan itu sebenarnya yang saya permasalahkan, tapi keadaan
pasar malamnya. Anehnya, bukan wahananya yang ramai disesaki pengunjung, tapi
justru pojok-pojok gelap yang dijadikan arena berpacaran. Saya sempat
speechless melihatnya. Kebanyakan, yang laki-laki mengapit rokok di jari
tangannya dan perempuan dengan mesranya menggandeng sang pacar. Termasuk dua
makhluk cantik di samping saya ini.
Setelah tersadar dari
keheranan ini—maklum, saya tidak pernah berminat datang ke suasana seperti ini
sebelumnya—yang terlintas dalam pikiran saya adalah sekarang ini pasar malam
bukan didatangi oleh anak-anak dengan orang tuanya untuk melepas stres, tapi
justru menjadi ajang pacaran yang menjurus ke hal-hal negatif.
Naas bagi teman saya karena salah satu TTMnya memergokinya bersama
dengan cowok lain dan sang TTM mengancam akan mengajak berkelahi. Saat itu saya
benar-benar dibuat merinding dan pikiran-pikiran aneh mulai berdatangan.
Bagaimana kalau memang benar-benar terjadi? Bagaimana kalau kami dibunuh?
Untunglah pikiran-pikiran hiperbola saya tidak terjadi.
Bagi saya,
pengalaman ini cukup membuat saya ketakutan, tapi setidaknya saya dapat
mengamati kehidupan yang hampir tak pernah bersentuhan dengan saya. Ternyata
kehidupan yang sering saya lihat di televisi sudah mulai masuk bahkan hingga ke
desa kecil tempat saya tinggal. Sudah terlihat di pojok sana ada banyak
pasangan yang sedang asyik berpacaran tanpa memedulikan nama baik dan masa
depan. Di pojok yang lain ada sekelompok pemuda yang kira-kira usianya sebaya
dengan saya yang sedang merokok maupun nge-fly. Tertawa keras sambil
menggoda setiap perempuan yang lewat. di dekat kios pakaian terdapat
serombongan remaja putri yang menjerit-jerit mencari perhatian laki-laki.
Berteriak-teriak dan saling memaki dengan kata-kata yang tidak sepantasnya
diucapkan.
Sungguh hal ini membuat miris, karena sepertinya saat ini harga
diri seorang perempuan sangatlah diobral murah. Atas nama cinta semuanya
diberikan pada sang pacar. Fakta ini membuat saya meringis ngeri. Kita tidak
mungkin terus diam seperti ini, bukan? Setidaknya kita harus membentengi diri
kita dulu. Dan jika ada teman kalian seperti yang telah saya kisahkan, paling
tidak kita mengingatkan dia agar mulai memikirkan harga diri dan masa depannya
yang masih panjang. Tentunya kita tidak mau orang yang kita sayang terjerumus
dalam kehidupan yang menyesatkan bukan? So, stand up and act now!
Pesan saya terutama untuk remaja putri di mana saja :
"Harga dirimu bukan berada pada orang lain, tapi harga dirimu
berada pada tanganmu sendiri. Maka hargailah dirimu sendiri."
\


