Minggu, 28 Oktober 2012

Love Story in Pasar Malam



Suatu malam, saya diajak oleh teman saya mengunjungi pasar malam yang kebetulan sedang mampir di desa saya. Saya pikir lumayanlah buat refreshing dari seabrek tugas sekolah. Makanya saya langsung semangat 45 menyambut tawaran dari teman saya, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu menyukai ingar-bingar seperti itu.
Dan sesampainya di sana, ternyata bukan refreshing yang jadi tujuan utama teman saya, tapi kopdar dengan cowok yang dicomblangin sama dia. Ternyata juga tujuan saya diajak adalah agar mereka mudah mendapatkan izin dari orang tua mereka dengan menggunakan nama saya. Aduh, rasanya rada sakit hati juga karena mereka memosisikan saya sebagai tameng yang hanya digunakan saat diperlukan.
But, bukan itu sebenarnya yang saya permasalahkan, tapi keadaan pasar malamnya. Anehnya, bukan wahananya yang ramai disesaki pengunjung, tapi justru pojok-pojok gelap yang dijadikan arena berpacaran. Saya sempat speechless melihatnya. Kebanyakan, yang laki-laki mengapit rokok di jari tangannya dan perempuan dengan mesranya menggandeng sang pacar. Termasuk dua makhluk cantik di samping saya ini.
Setelah tersadar dari keheranan ini—maklum, saya tidak pernah berminat datang ke suasana seperti ini sebelumnya—yang terlintas dalam pikiran saya adalah sekarang ini pasar malam bukan didatangi oleh anak-anak dengan orang tuanya untuk melepas stres, tapi justru menjadi ajang pacaran yang menjurus ke hal-hal negatif.
Naas bagi teman saya karena salah satu TTMnya memergokinya bersama dengan cowok lain dan sang TTM mengancam akan mengajak berkelahi. Saat itu saya benar-benar dibuat merinding dan pikiran-pikiran aneh mulai berdatangan. Bagaimana kalau memang benar-benar terjadi? Bagaimana kalau kami dibunuh? Untunglah pikiran-pikiran hiperbola saya tidak terjadi.
Bagi saya, pengalaman ini cukup membuat saya ketakutan, tapi setidaknya saya dapat mengamati kehidupan yang hampir tak pernah bersentuhan dengan saya. Ternyata kehidupan yang sering saya lihat di televisi sudah mulai masuk bahkan hingga ke desa kecil tempat saya tinggal. Sudah terlihat di pojok sana ada banyak pasangan yang sedang asyik berpacaran tanpa memedulikan nama baik dan masa depan. Di pojok yang lain ada sekelompok pemuda yang kira-kira usianya sebaya dengan saya yang sedang merokok maupun nge-fly. Tertawa keras sambil menggoda setiap perempuan yang lewat. di dekat kios pakaian terdapat serombongan remaja putri yang menjerit-jerit mencari perhatian laki-laki. Berteriak-teriak dan saling memaki dengan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan.
Sungguh hal ini membuat miris, karena sepertinya saat ini harga diri seorang perempuan sangatlah diobral murah. Atas nama cinta semuanya diberikan pada sang pacar. Fakta ini membuat saya meringis ngeri. Kita tidak mungkin terus diam seperti ini, bukan? Setidaknya kita harus membentengi diri kita dulu. Dan jika ada teman kalian seperti yang telah saya kisahkan, paling tidak kita mengingatkan dia agar mulai memikirkan harga diri dan masa depannya yang masih panjang. Tentunya kita tidak mau orang yang kita sayang terjerumus dalam kehidupan yang menyesatkan bukan? So, stand up and act now!
Pesan saya terutama untuk remaja putri di mana saja :
"Harga dirimu bukan berada pada orang lain, tapi harga dirimu berada pada tanganmu sendiri. Maka hargailah dirimu sendiri."
\

Jumat, 26 Oktober 2012

Cinta Tidak Memerlukan Alasan


Resensi Novel Separuh Bintang



Judul : Separuh Bintang
Pengarang : Evline Kartika
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2009
Tebal buku : 320 halaman

Cinta itu nggak butuh alasan. Jika cinta membutuhkan alasan, ketika alas an itu hilang, cinta juga akan hilang bersamanya..
Lalu, ketika seseorang yang kita cintai itu menghilang, apakah kita juga harus hilang bersamanya?
Dunia seakan terbalik bagi Chiara. Dalam sekejap hidupnya yang penuh kebahagiaan berubah. Setelah tahu statusnya sebagai anak haram—yang menyebabkan ayahnya marah dan kabur dari rumah, ditambah meninggalnya ibu dan kakaknya—Chiara mengunci rapat-rapat sebagian dirinya.
Di tengah kesedihan dan keterpurukannya itu, Aldy, sahabat sejatinya sejak kanak-kanak, selalu setia menemaninya. Tapi, bisakah kesabaran dan ketulusan Aldy membuat Chiara bangkit lagi? Atau mungkin, perlu muncul kisah dan tokoh baru untuk memulai episode hidup Chiara yang selanjutnya? Who knows?
XXX
Menjadi sosok Ciya—Chiara—mungkin sangat menyedihkan. Ia harus kehilangan segalanya—ayah, ibu, dan kakaknya—di usianya yang masih sangat menyedihkan. Ia akhirnya memutuskan menerima tawaran Henry, pria baik hati teman lama mamanya, untuk menjadi anak angkatnya. Seketika itu juga kahidupannya berubah. Ia menjadi anak kaya raya dan bersekolah di sekolah elit. Berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
Kehidupannya juga bertambah semarak dengan hadirnya Rico, anak Henry, yang begitu membencinya. Tinggal serumah dan berada di sekolah yang sama membuat Ciya kesal setengah mati. Si playboy itu selalu mengganggunya dan puncaknya, ia harus berpura-pura pacaran dengan Rico untuk mengelabui Jessica, mantan pacar Rico yang tak kenal lelah mengajaknya balikan.
Aldy, sahabat Ciya yang juga menyukai gadis itu merasa cemburu. Ia tak terima karena gadis yang sudah ditunggunya selama enam belas tahun, dekat dengan laki-laki lain. Apalagi, hanya Rico yang dapat mengembalikan senyum Ciya yang hanya dia berikan pada seseorang di masa lalunya. Aldy mulai berusaha untuk membuat Ciya melihatnya bukan sebagai teman. Mengingat dulu Ciya menyukai Aldy, tentunya mudah bagi Aldy untuk mendapatkan gadis itu. Tapi benarkah semudah itu?
Mulanya, Ciya tidak menyadari perasaannya pada Rico, begitu pula dengan Rico. Tapi semenjak kehadiran Aldy dan Sha-Sha—cinta pertama Rico—akankah mereka merelakan satu sama lain untuk bersama dengan cinta yang lain? Lalu siapakah Henry sebenarnya dan apa alasannya menjadikan Ciya sebagai anak angkatnya? Dan siapakah orang yang ada di masa lalu Ciya yang selalu membawa mimpi buruk baginya?
Novel karya Evline Kartika ini hampir secara keseluruhan menceritakan tentang kehidupan remaja. Dengan gaya bahasa khas remaja dan alur flashback, novel ini tidak terlalu sulit untuk dipahami. Melalui novel ini kita seperti diajak merasakan kesedihan Chiara ketika harus kehilangan orang-orang yang dicintainya dan kadang membuat kita tersenyum lebar dengan humor yang diselipkan di dalamnya.
Satu hal penting yang dapat kita petik dari novel ini adalah jangan berlarut-larut dengan masa lalu. Masa lalu memang tidak akan pernah bisa terhapus dari ingatan, entah itu indah maupun menyakitkan. Namun itu bukanlah alasan bagi kita untuk selalu terpuruk. Lebih baik jadikanlah masa lalu sebagai kenangan dan pelajaran berharga yang akan selalu menyertai hidup kita di manapun kita berada.
“Jangan hindari masa lalumu yang menyakitkan. Terimalah kenyataan yang telah terjadi. Angkat kepalamu dan tersenyumlah menatap masa depan. Dan kau akan tahu bahwa akan ada kisah yang indah untukmu.”