Rabu, 14 Agustus 2013

Janji Merapi


Judul : Notasi
Pengarang : Morra Quatro
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 294 halaman
Rate : 7,5/10

Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu....
XXX
Nalia adalah seorang mahasisiwi Kedokteran Gigi yang cukup aktif di kampus. Pada suatu acara BEM, ia harus terlibat dengan anak Teknik. Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Teknik saling bersitegang. Anak Teknik menganggap mahasiswa FKG adalah kumpulan anak-anak borju dan sebaliknya, anak FKG menganggap mahasiswa Teknik sebagai makhluk-makhluk angkuh dan terkesan barbar.

Namun anggapan itu seakan menghilang saat Nalia bertemu dengan Nino, laki-laki tampan dan lembut. Mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama karena dipertemukan oleh urusan-urusan kampus. Meski dianggap tidak biasa karena sangat jarang mahasiswa kedua fakultas itu terlihat bersama, mereka tidak peduli.


Semakin lama Nino semakin jauh memasuki kehidupan Nalia dan membuat mereka berdua jatuh cinta. Namun, peristiwa revolusi menghambat kisah cinta mereka. Sudah saatnya bagi mereka para mahasiswa untuk menyuarakan pemikiran mereka setelah lama dikungkung dalam pemerintahan Orde Baru.


"Nanti, bila segalanya telah berakhir, kita daki Merapi, ke puncak yang paling tinggi," ujarnya kemudian.
Bila segalanya telah berakhir.
Bila segalanya telah berakhir.
Tidak ada yang tampaknya akan berakhir

Kisah ini berlatar pada akhir masa Orde Baru dan peristiwa proklamasi, ini sangat menarik. Cerita ditulis dari sudut pandang Nalia, membuat kisahnya menjadi lebih detil.


Saya baru pertama membaca tulisan Morra Quatro dan saya sangat menyukainya. Bahasa yang digunakan puitis dan manis, dengan tambahan beberapa quotes. Kisah Nalia dan Nino mengalir dengan indah dengan latar peristiwa revolusi yang jelas tergambar.


Sayangnya ada banyak kesalahan penulisan kata (typo) yang agak mengganggu ketika membacanya. Tapi saya suka dengan ceritanya apalagi dengan ending yang di luar perkiraan saya. Mungkin saya akan membaca buku-buku Morra Quatro yang lain :)


"Padi tumbuh tidak berisik"
-Tan Malaka-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar