Selasa, 05 Februari 2013

Matahari dan Bunga Matahari


Resensi Novel Morning Light

Judul : Morning Light
Pengarang : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2010
Tebal buku : viii+180 halaman
Rate : 8/10
Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia : matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup—malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.
Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar baying-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan suara lirih di dasar hatiku.
Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya. Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?
XXX
Sophie, Devon, Agnes, dan Julian merupakan empat sahabat yang tak terpisahkan. Mereka sama-sama terlambat pada upacara penerimaan murid baru. Dari situlah persahabataan mereka dimulai.
Keempat sahabat itu memiliki karakter yang berbeda. Sophie merupakan gadis sinis putri dari seorang penulis terkenal. Terobsesi dengan kehebatan mamanya, ia memutuskan untuk mengikuti jejak sang mama menjadi seorang penulis.
Berbanding terbalik dengan Sophie, Devon memiliki sifat yang ceria dan ramah. Ia sangat menyukai sepak bola dan termasuk salah satu atlet sepakbola kebanggan sekolah. Devon dan Sophie sudah bersahabat sejak lama karena rumah mereka memang terletak bersebelahan.
Gadis lain dalam persahabatan mereka adalah Agnes yang suka memasak dan bercita-cita menjadi koki. Namun, pekerjaan kedua orangtuanya sebagai dokter terasa membebaninya karena ia tidak bisa menjadi seperti kedua orangtuanya.
Yang terakhir adalah laki-laki berkacamata bernama Julian. Seperti penampilannya, ia memang anak yang cerdas dan dingin. Maklum saja, ayahnya adalah seorang guru besar Matematika ternama dan kakaknya juga mengikuti bidang yang ditekuni sang ayah dan kuliah di MIT.
Masalah mulai bermunculan ketika mereka duduk di tingkatan terakhir bangku SMA. Rahasia yang mereka coba sembunyikan mulai terkuak satu persatu. Mulai dari Devon yang merasa jenuh pada sepakbola karena tertekan oleh ambisi ayahnya yang merupakan mantan pemain Timnas. Sakit mulai menggerogoti hati Agnes akibat perlakuan mamanya yang berubah dingin setelah kematian kakaknya yang akan mengikuti jejaknya menjadi dokter. Julian semakin lelah karena ia terus-menerus mencoba mengejar Daniel, kakaknya, bahkan berambisi untuk mengalahkan prestasi yang dibuat Daniel. Sophie sendiri harus menelan kecewa karena naskahnya ditolak penerbit karena editornya menganggap karyanya terlalu dipaksakan.
Satu kesamaan diantara mereka yaitu mereka sama-sama mendongak menatap sang matahari dan menganggap diri mereka tidak sehebat matahari.
Kisah yang ditulis oleh Windhy Puspitadewi sarat dengan kehidupan remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri. Setiap peristiwa dalam cerita merupakan fenomena yang ada di sekitar kita, sehingga kita mudah untuk mengikuti alurnya. Meski narasi yang tidak terlalu banyak sering membuat pembaca kesulitan untuk membayangkan peristiwanya, buku ini tetap layak dikoleksi terutama untuk mengenang persahabatan dan mimpi-mimpi kita.
Sahabat adalah orang yang tulus membantu kita menggapai cita-cita.
Sahabat adalah orang yang akan bersorak lebih kencang ketika kita berhasil menggapai mimpi meskipun mimpinya sendiri kandas.
Sahabat adalah orang yang menggenggam erat tangan kita saat kita ketakutan akan harapan yang terlalu tinggi.
Sahabat itu…kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar