Langit senja ini terlihat
kelabu. Titik-titik air mulai membasahi rerumputan, menebarkan bau tanah basah
yang khas. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Kau merapatkan mantel cokelat
kusam yang membungkus hampir seluruh tubuhmu. Disandarkannya tubuhmu di kursi
kayu yang mulai rapuh, menikmati suara nyaring rinai hujan yang beradu dengan
petir yang bersahutan.
Kau memandang jauh sungai
berair jernih dengan arus yang tidak terlalu deras. Tapi, terlihat jelas
pikiranmu tidak berada di sana. Kau bergeming tanpa memedulikan apa atau
siapapun yang ada. Menikmati guyuran air yang membasahi tiap helai rambut
panjangmu. Membiarkan air menetesi wajah beningmu.
Aku berjalan menghampirimu,
berdiri di sampingmu.
Kau membuka matamu yang
sedari tadi terpejam, mungkin kau menyadari ada yang berada di dekatmu. Seulas senyum
lelah tersungging di bibirmu yang mulai membiru. Binar hitam matamu yang mulai
meredup menatap seperti biasa, tanpa emosi di dalamnya. Kau bergumam lirih, “Kau
datang?”
Aku hanya duduk di
sampingmu tanpa menjawab pertanyaanmu.
“Aku ingin menikmati hujan.”
Aku terdiam mendengar
ucapanmu. Selalu kalimat itu yang kau lontarkan padaku jika hujan turun.
Hening terasa mencekam. Hanya
suara hujan dan gemuruh petir yang sedikit mengisi diam di antara kita.
“Aku selalu berharap
hujan dapat menghapus semua ingatanku seperti hujan menghilangkan debu yang
menempel.” Kau berkata dengan suara lirihmu yang terdengar jauh. “Tapi tetap
saja ada yang kosong di sini.” Kau menepuk dadamu dua kali.
Aku tak menimpali
ucapanmu. Aku tahu kau tak butuh pendapat siapapun. Kau hanya butuh diamku.
“Dia tak datang hari ini.
Katanya dia akan kembali kepadaku saat hujan tiba. Ia berjanji akan menemuiku
di sini.” Kau mendongak menatap langit, menghadiahkan satu senyum getir. “Ia
pasti datang. Mungkin saja payung dan mantelnya hilang. Mungkin saja ban
sepedanya bocor, jadi dia sedikit terlambat menemuiku.”
Setitik air mata jatuh
bergulir di pipimu, berbaur dengan air hujan. Kau terisak pelan. “Ia pasti
datang. Aku percaya itu.”
Kurutuki diriku yang
hanya bisa diam memandangmu dengan tangis tanpa suara yang terasa menyakitkan. Kuangkat
sebelah tanganku untuk menepuk bahumu, sekadar untuk menenangkan tangismu. Sebuah
sengatan mengejutkanku. Cahaya putih yang berpendar mengingatkanku akan hanl
yang hampir terlupa. Aku tidak bisa menyentuhmu.
“Aku merindukannya.” Isakanmu
terdengar semakin keras. Tubuhmu bergetar hebat menahan sakit yang selama ini
disimpan dalam diam.
Pandanganku mulai
mengabur akibat air mata yang memenuhi kelopak mataku. Melihatmu menangis
seperti ini membuatku frustasi karena aku tidak bisa berada di sisimu untuk
membagi rasa sakitmu. Aku yang tidak berguna.
Kau mengangkat kepalamu,
mencoba menghentikan tangis yang menyesakkan. Kau berujar lirih, “Aku percaya
kau pasti akan kembali.” Kau menatap kursi di sampingmu yang kosong dan basah
karena hujan.
Sampai kapanpun orang
yang kauharapkan datang tidak akan pernah menemuimu. Karena orang itu bahkan tidak dapat menyentuhmu.
Aku.
251212
Tidak ada komentar:
Posting Komentar