Sembari mengisi waktu yang kosong karena tidak ada
tagihan tugas, aku ingin membagikan cerpen hasil tugas keroyokanku dan Rossa
waktu kelas sepuluh. Sebenarnya moodku sedang bagus karena mendung mulai
menggantung, tinggal menunggu hujan. Tapi, sayangnya sampai jam segini hujan
belum juga turun, terpaksanya aku mengurungkan niatku untuk membuat coretan. Dan
akhirnya aku menemukan cerpen ini yang terselip di antara dokumenku yang
berantakan. Cerpen yang gagal dipublikasikan karena waktu presentasinya sudah
habis, dengan sedikit pembaruan. Semoga kalian suka.
Pagi ini sang mentari belum menampakkan
sinarnya. Aku, Risa Anandita, sedang duduk di dalam bus kota yang selalu setia
bersamaku setiap hari. Sesungguhnya, hari ini aku enggan untuk bersekolah.
Bukan hanya hari ini, tapi hari-hari kemarin dan yang akan datang. Alasan
sebenarnya, di sekolah aku menjadi korban penggencetan kedua teman sekelasku,
Ella dan Elvira. Ya, aku telah masuk ke dalam daftar hitam kedua gadis yang
hanya sok berkuasa itu, hanya karena aku seorang bintang kelas yang kutu
buku. Tas yang dimasukkan ke kolam, buku
yang telah disobek atau baju olahraga yang digantung di atas pohon, sudah
menjadi makanan sehari-hari bagiku. Dan karena pengaruh siswi berdarah biru
yang memang bermuka dua itu, aku dikucilkan oleh teman sekelasku, termasuk
kedua teman akrabku, Dea dan Anna. Anehnya, mereka mau menjadi pesuruh bagi
Ella dan Elvira. Makanya, mereka menjadi orang yang besar kepala.
Sejujurnya, bullying itu
membuatku menjadi rendah diri. Kau tahu, rasanya sangat menyakitkan.
Aku menghela napas panjang. Kulirik
penumpang yang duduk di sebelahku. Sudah kuduga pasti laki-laki itu. Ia memakai
seragam sepertiku. Sejak pertama aku bertemu dengannya, sepertinya ia sudah
tidak asing bagiku. Namun, ingatanku yang terbatas ini tidak mampu memutar
ulang memoriku ini. Aku tahu ia pasti akan turun di pemakaman sebentar lagi.
Aku tak mengerti mengapa ia suka sekali berada di tempat peristirahatan
terakhir bagi orang yang telah berputih tulang.
“Kau tahu berita tentang adik kelas kita
yang mati bunuh diri tiga hari lalu?” Suara nyaring itu membuyarkan lamunanku.
Suara itu berasal dari dua orang kakak kelasku yang memang biasa satu bus
denganku.
“Tentu saja. Sekarang berita itu telah
menjadi topic utama di seantero sekolah. Aku sendiri tak mengerti kenapa ada
orang yang mau menyia-nyiakan hidupnya,” kata salah satu dari mereka.
“Kudengar, dia mati bunuh diri karena
depresi. Dia adalah korban bullying. Dan biang keladinya adalah teman
sekelasnya sendiri.”
“Benarkah? Kasihan sekali dia. Kau tahu
namanya?” Ia bertanya kepada temannya itu dengan suaranya yang lembut.
Gadis berkerudung itu mengangguk.
“Namanya adalah…”
“Berhenti, Pak.” Lelaki di sebelahku
berseru dan mulai bejalan keluar.
Rasanya aku seperti hilang akal karena
mengikutinya turun menuju pemakaman atau lebih tepatnya seperti mata-mata.
Jujur, aku penasaran sekali tentang makam yang setiap pagi dikunjunginya. Tapi,
sepertinya dia tidak tahu bahwa aku membuntutinya.
Ia terus saja melangkahkan kakinya
menuju ke makam yang masih basah. Dugaanku, makam yang selalu dikunjunginya
adalah makam orang yang spesial baginya. Kalau tidak, mana mungkin ia
menyempatkan diri pergi ke sini setiap hari dan membawakan setangkai bunga
mawar hitam, tanda duka cita.
Ia menghentikan langkahnya dan bersimpuh
di depan makam itu. “Aku sudah datang,” katanya. Ia meletakkan mawar itu di
tanah yang masih basah dan termangu memandangi makam itu.
Aku ikut bersimpuh dan membaca deretan
huruf yang terukir di papannya. Aku tercekat. Napasku tersengal dan mataku
berkunang-kunang. Tubuhku mulai bersimbah peluh. Kubaca sekali lagi untuk
memastikan aku tidak salah lihat.
RISA ANANDITA
12 NOVEMBER
1994-10 DESEMBER 2010
Rentetan kenangan mulai berkelebat di
kepalaku. Aku ingat semuanya, aku ingat siapa aku sebenarnya. Aku sudah mati.
“Risa, maafkan aku karena tidak dapat
menjagamu.” Laki-laki itu yang ternyata adalah Radit teman baikku, meletakkan
setangkai bunga tulip putih yang melambangkan permohonan maaf.
Aku menangis keras. Menyesal akan apa
yang telah kuperbuat. Seharusnya aku tidak sebodoh itu menyia-nyiakan hidupku.
Ternyata, di sini ada orang yang selalu menyayangiku.Sayang, aku sudah tidak
dapat kembali. Namun, aku tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihatnya.
Melihat dia, teman terbaikku.
Terima kasih.
aku suka has ^^
BalasHapus