Kamis, 20 September 2012

Thank You

Hai teman!
Sembari mengisi waktu yang kosong karena tidak ada tagihan tugas, aku ingin membagikan cerpen hasil tugas keroyokanku dan Rossa waktu kelas sepuluh. Sebenarnya moodku sedang bagus karena mendung mulai menggantung, tinggal menunggu hujan. Tapi, sayangnya sampai jam segini hujan belum juga turun, terpaksanya aku mengurungkan niatku untuk membuat coretan. Dan akhirnya aku menemukan cerpen ini yang terselip di antara dokumenku yang berantakan. Cerpen yang gagal dipublikasikan karena waktu presentasinya sudah habis, dengan sedikit pembaruan.  Semoga kalian suka.
 
Pagi ini sang mentari belum menampakkan sinarnya. Aku, Risa Anandita, sedang duduk di dalam bus kota yang selalu setia bersamaku setiap hari. Sesungguhnya, hari ini aku enggan untuk bersekolah. Bukan hanya hari ini, tapi hari-hari kemarin dan yang akan datang. Alasan sebenarnya, di sekolah aku menjadi korban penggencetan kedua teman sekelasku, Ella dan Elvira. Ya, aku telah masuk ke dalam daftar hitam kedua gadis yang hanya sok berkuasa itu, hanya karena aku seorang bintang kelas yang kutu buku.  Tas yang dimasukkan ke kolam, buku yang telah disobek atau baju olahraga yang digantung di atas pohon, sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Dan karena pengaruh siswi berdarah biru yang memang bermuka dua itu, aku dikucilkan oleh teman sekelasku, termasuk kedua teman akrabku, Dea dan Anna. Anehnya, mereka mau menjadi pesuruh bagi Ella dan Elvira. Makanya, mereka menjadi orang yang besar kepala.
Sejujurnya, bullying itu membuatku menjadi rendah diri. Kau tahu, rasanya sangat menyakitkan.
Aku menghela napas panjang. Kulirik penumpang yang duduk di sebelahku. Sudah kuduga pasti laki-laki itu. Ia memakai seragam sepertiku. Sejak pertama aku bertemu dengannya, sepertinya ia sudah tidak asing bagiku. Namun, ingatanku yang terbatas ini tidak mampu memutar ulang memoriku ini. Aku tahu ia pasti akan turun di pemakaman sebentar lagi. Aku tak mengerti mengapa ia suka sekali berada di tempat peristirahatan terakhir bagi orang yang telah berputih tulang.
“Kau tahu berita tentang adik kelas kita yang mati bunuh diri tiga hari lalu?” Suara nyaring itu membuyarkan lamunanku. Suara itu berasal dari dua orang kakak kelasku yang memang biasa satu bus denganku.
“Tentu saja. Sekarang berita itu telah menjadi topic utama di seantero sekolah. Aku sendiri tak mengerti kenapa ada orang yang mau menyia-nyiakan hidupnya,” kata salah satu dari mereka.
“Kudengar, dia mati bunuh diri karena depresi. Dia adalah korban bullying. Dan biang keladinya adalah teman sekelasnya sendiri.”
“Benarkah? Kasihan sekali dia. Kau tahu namanya?” Ia bertanya kepada temannya itu dengan suaranya yang lembut.
Gadis berkerudung itu mengangguk. “Namanya adalah…”
“Berhenti, Pak.” Lelaki di sebelahku berseru dan mulai bejalan keluar.
Rasanya aku seperti hilang akal karena mengikutinya turun menuju pemakaman atau lebih tepatnya seperti mata-mata. Jujur, aku penasaran sekali tentang makam yang setiap pagi dikunjunginya. Tapi, sepertinya dia tidak tahu bahwa aku membuntutinya.
Ia terus saja melangkahkan kakinya menuju ke makam yang masih basah. Dugaanku, makam yang selalu dikunjunginya adalah makam orang yang spesial baginya. Kalau tidak, mana mungkin ia menyempatkan diri pergi ke sini setiap hari dan membawakan setangkai bunga mawar hitam, tanda duka cita.
Ia menghentikan langkahnya dan bersimpuh di depan makam itu. “Aku sudah datang,” katanya. Ia meletakkan mawar itu di tanah yang masih basah dan termangu memandangi makam itu.
Aku ikut bersimpuh dan membaca deretan huruf yang terukir di papannya. Aku tercekat. Napasku tersengal dan mataku berkunang-kunang. Tubuhku mulai bersimbah peluh. Kubaca sekali lagi untuk memastikan aku tidak salah lihat.

RISA ANANDITA
12 NOVEMBER 1994-10 DESEMBER 2010
Rentetan kenangan mulai berkelebat di kepalaku. Aku ingat semuanya, aku ingat siapa aku sebenarnya. Aku sudah mati.
“Risa, maafkan aku karena tidak dapat menjagamu.” Laki-laki itu yang ternyata adalah Radit teman baikku, meletakkan setangkai bunga tulip putih yang melambangkan permohonan maaf.
Aku menangis keras. Menyesal akan apa yang telah kuperbuat. Seharusnya aku tidak sebodoh itu menyia-nyiakan hidupku. Ternyata, di sini ada orang yang selalu menyayangiku.Sayang, aku sudah tidak dapat kembali. Namun, aku tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihatnya. Melihat dia, teman terbaikku.
Terima kasih.

1 komentar: